Atik Jaya Raya Farm (Perbaiki Performance dengan Kandang Closed House)

Atik Jaya Raya Farm (Perbaiki Performance dengan Kandang Closed House)

Merasa hasil kurang optimal selama berbudidaya ayam broiler dengan kandang terbuka, Atik Jaya Raya Farm beralih ke kandang closed house untuk perbaikan performance.

Budidaya ayam broilernya telah dimulai sejak tahun 1980-an, namun selama itu pula budidaya ayam broiler yang dijalani oleh Atik Jaya Raya Farm masih konvensional menggunakan kandang sistem terbuka.

Menurut Fredrick Sebastian selaku generasi kedua dari Atik Jaya Raya Farm dulu ketika masih dikelola oleh orang tuanya, budidaya ayam masih mempergunakan kandang terbuka, sehingga Indeks Performance (IP) yang didapat hanya pada kisaran 300-350.

“Permasalahan yang dihadapi ketika menggunakan kandang konvensional ialah tidak bisa mengontrol suhu lingkungan di kandang. Dengan kondisi kandang di wilayah Sukabumi dan Cianjur, perbedaan cuaca atau iklim disana cukup ekstrim antara siang dan malam hari. Perbedaan suhu bisa mencapai 12 derajat C antara siang hari dan malam hari. Hal ini tentunya dapat membuat ayam mengalami stres yang cukup berat,” kata Fredrick.

Selain itu, lanjutnya, manajemen di kandang sangatlah terlalu longgar. Maksudnya longgar ialah, dengan kondisi kandang terbuka menyebabkan pemberian pakan dan sumber daya manusia (SDM) yang digunakan sangatlah banyak. “Pakan di kandang mudah tercecer, itu merupakan kerugian sementara tenaga yang dipergunakan juga sangat banyak.”

Setelah mendapat tanggungjawab untuk mengelola Atik Jaya Raya Farm, ketiga anak Atik memikirkan terobosan untuk bisa terus bertahan ditengah situasi dan kondisi saat ini di mana sangat sulit untuk berbudidaya ayam. Bagaimana dan solusi apa yang harus diambil untuk mengatasi kondisi tercecernya pakan, perbedaan suhu serta ragam penyakit yang sangat banyak menyerang ayam sehingga menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi.

Akhirnya mereka berfikir untuk tidak memaksakan menggunakan kandang sistem terbuka. Karena walaupun memaksimalkan manajemen pemeliharaan, hasil yang didapat menurut mereka sudah optimal dan tidak bisa bertambah lagi. “Dengan kandang sistem terbuka, IP yang didapat maksimal hanya 350 tentunya dengan manajemen pemeliharaan yang super ketat. Tingkat kematian pun tidak bisa ditekan lebih rendah lagi, mentok hanya 5 persen saja. Mereka berfikir untuk mulai beralih menggunakan kandang sistem tertutup atau closed house. Dengan menggunakan kandang sistem closed house harapannya bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.

Terbukti, kata Kendrick Sebastian yang merupakan anak pertama dari Atik, ketika periode pertama setelah kandang closed house terbangun, hasil yang dicapai cukup menggembirakan. Dengan Indeks Performance (IP) mencapai 491, FCR cukup rendah dengan body weight sekitar 2,1 kg diangka 1,38. Kepadatan 14,5 ekor per m2, dengan operator 3-4 orang untuk 1 kandang atau 1 orang untuk 10.000. Sehingga cukup jelas angka yang dihasilkan jika dibandingkan dengan penggunaan kandang konvensional.

Selain itu, tambah Kendrick, pakan sudah tidak tercecer lagi. Dengan menggunakan full automatic system di dalam kandang closed house pemberian pakan menjadi sangat efisien tanpa adanya pakan yang tercecer. Kontrol suhu juga menjadi semakin mudah. Dengan kandang closed house perbedaan suhu yang didapat bisa diangka 1 derajat C. “Hal ini sangat menguntungkan kami karena harga pakan saat ini tidaklah murah,” ujar Kendrick.

Akhirnya kami memutuskan membuat kandang closed house yang pertama kami menggunakan kandang Starcon. Kami, kata Fredrick, sebelumnya telah melakukan beberapa survey dan mengunjungi kandang closed house Starcon dan kami cukup puas dengan pengerjaannya, mutu dan kualitas bahan yang digunakan.

Selain itu hasil yang tercermin pada IP yang diperoleh cukup tinggi, sehingga kami mempercayakan menggunakan kandang produksi PT. Starcon Prima Utama yang telah berpengalaman di bidangnya. Lanjutnya, dengan penggunaan kandang closed house di peternakannya kematian ayam lebih kecil, produktivitas meningkat, index performance yang tinggi tentunya keuntungan meningkat.

Menurut Fredrick, penggunaan kandang closed house memang merupakan suatu investasi yang besar, namun ini semua akan memberikan keuntungan bagi penggunanya. Selain keuntungan yang telah dijabarkan tadi, umur dari kandang closed house yang cukup lama dan garansi dari produsen memberikan jaminan tersendiri bagi usaha ternak ayam yang kami jalani.

Jika selama ini kandang konvensional bangunan kandangnya mempergunakan kayu, tentunya dari segi usia kandang tersebut tidak bisa bertahan lama dan tidak ramah lingkungan. “Kami membangun kandang dengan menggunakan baja standar mutu SNI, konstruksi baja antikarat, mudah dibongkar pasang dan tahan lama produksi Starcon,” kata Fredrick.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hubungi Kami