Profil Tohpati Ario Hutomo : Gitaris Legend Asal Denpasar Bali

Profil Tohpati Ario Hutomo : Gitaris Legend Asal Denpasar Bali – Suatu ketika, pada awal 1980-an, seorang bocah bercelana pendek naik angkot untuk les gitar di lingkungan Mayestik, Jakarta Selatan. Belakangan, anak tersebut dikenal sebagai seorang gitaris bernama Tohpati Ario Hutomo.

Misalnya, Tohpati tumbuh dari keluarga kelas menengah perkotaan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Ir Harnoko Hadisubroto dan Siti Werdhi. Itu sebabnya dia disebut Bontot di rumah.

Profil dan Biodata Tohpati

Nama lahir : Tohpati Ario Hutomo
Tanggal : Lahir 25 Juli 1971
Pekerjaan : Gitaris, musisi
Instrumen : Gitar
Tahun aktif : 1993 – sekarang
Agama : Islam
Situs resmi : www.tohpati.com

Profil Tohpati Ario Hutomo : Gitaris Legend Asal Denpasar Bali

Tohpati Ario Hutomo atau biasa dipanggil Tohpati lahir di Jakarta pada tanggal 25 Juli 1971. Ia adalah seorang musisi dan pencipta lagu Indonesia. Tohpati adalah salah satu gitaris jazz Indonesia yang terkenal. Hal ini terlihat dari seringnya ia tampil di acara TV bersama penyanyi pop seperti Krisdayanti, Glenn Fredly, Rossa, Chrisye dan lain-lain.

Karya-karyanya banyak memadukan unsur budaya tradisional yang sejalan dengan upayanya memadukan unsur modern dan unsur tradisional Indonesia melalui karya-karyanya. Alasan mengapa ia tertarik pada musik jazz adalah karena dipengaruhi oleh musisi Pat Metheny.

Karir Tohpati

Sejak remaja, ia bahkan telah tampil di panggung-panggung di sekitar Jakarta. Ia juga pernah menyabet gelar gitaris terbaik dalam festival band di DKI tahun 1985, saat usianya baru 14 tahun. Kemudian pada tahun 1989 Tohpati terpilih sebagai Gitaris Terbaik untuk Festival Band di Jawa. Dan di tahun yang sama ia juga meraih predikat Gitaris Terbaik di tingkat nasional Yamaha Band Explosion.

Pada tahun 1993 ia bergabung dengan grup “Dengar Dialog”, yang terdiri dari Riza Arshad, Arie Ayunir dan Indro Hardjodikoro. Nama Indro Hardjodikoro kemudian menjadi orang yang paling sering diajak bermain di mana-mana. Bersama grup “Simak Dialog”, ia telah sukses merilis tiga album, yaitu: Lukisan, Baur dan Kesurupan/Misi.

Pada tahun 1998, Tohpati akhirnya merilis album solo pertamanya. Di album pertama ini ia mengundang beberapa penyanyi seperti Shakila dan Glenn Fredly yang baru-baru ini melejit namanya dengan grup “Funk Section”.

Untuk mempopulerkan album pertamanya, Tohpati merilis video musik lagu berjudul Lukisan Pagi yang dibawakan bersama Shakila. Lagu tersebut menjadi sangat populer pada masanya dan menjadi juara di berbagai platform musik tanah air.

Album solo keduanya, Serampang Samba, justru lebih banyak menampilkan hits instrumental. Berbeda dengan album sebelumnya, Tohpati hanya merilis video musik untuk lagu “Jejak Step Yang You Live” kali ini yang dinyanyikan bersama Glenn Fredly.

Serampang Samba juga menghadirkan lebih banyak musik tradisional Indonesia dengan memasukkan permainan gitar akustik dan unsur musik Bali. Bisa dibilang album kedua ini lebih matang dari album sebelumnya.

Trisum

Trisum adalah grup yang awalnya dibentuk pada tahun 2004 dimana Tohpati, Dewa Budjana dan Balawan naik panggung di acara peluncuran produk. Setahun kemudian, ketiganya tampil di Java Jazz Festival dan disambut baik oleh masyarakat. Ketiganya juga tampil di atas panggung dalam konser bertajuk Dialog Tiga Gitar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) pada akhir 2005 lalu. Dalam konser inilah nama tiga gitaris handal ini mulai dikenal masyarakat luas, dimana mereka juga melanjutkan roadshow ke berbagai kota di Indonesia. Indonesia.!

Pada usia 14 tahun, saat masih di sekolah menengah, dia telah menghasilkan uang dengan bermain band. Saat bermain di Cockpit Junior, ia ingat pernah menerima honor Rp 10.000. Jumlah itu cukup banyak untuknya saat itu. Saat tampil di Ancol pada Jumat Malam Jazz, ia kaget karena mendapat honor Rp 750.000. Dan sambil kuliah, ia digaji Rp 9 juta untuk menggarap musik sinetron Badai Pasti Berlalu. “Itu banyak uang untuk siswa. Kemudian saya berpikir: itu berarti hidup saya terletak pada musik.”

About the author: felicia

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *